Hukum Hak Cipta

Apa itu Pelanggaran Hak Moral Pencipta?

Apa itu Pelanggaran Hak Moral Pencipta?

Pelanggaran hak moral pencipta diatur dalam pasal 55 dan 58 jo pasal 2 Undang-Undang Hak Cipta. Secara umum pelanggaran hak moral pencipta meliputi:

1. Pelanggaran atas right of attribution

Pelanggaran terhadap hak moral pencipta untuk dicatatkan namanya sebagai pencipta dalam ciptaannya dapat berupa perbuatan false of attribution, yaitu perbuatan yang mencantumkan nama pencipta pada ciptaan orang lain ataupun lack of attribution, yaitu tidak menyebutkan nama pencipta dalam ciptaannya.

2. Pelanggaran atas right of integrity

Pelanggaran ini berkaitan dengan keutuhan dari satu ciptaan yang telah diubah atau dimutilasi oleh pihak lain tanpa seizin pencipta.

Pelanggaran hak moral pencipta yang diatur dalam pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Hak Cipta Indonesia adalah mengubah suatu ciptaan tanpa seizin pencipta yang merusak apresiasi dan reputasi pencipta.

Ruang lingkup perbuatan mengubah suatu ciptaan bersifat sangat luas karena dapar saja dilakukan dengan berbagai cara. Bahkan, perbuatan sekecil apa pun terhadap suatu ciptaan seperti:

  1. Mengganti judul.
  2. Mengganti sub judul.
  3. Mengganti warna.
  4. Menampilkan suatu ciptaandrama di luar stage yang dimaksudkan.
  5. Mengubah nama asli atau samaran.

Baca juga: Pelaksanaan Penegakan Hukum Hak Cipta Secara Perdata

Perbuatan mengubah suatu ciptaan juga meliputi segala bentuk mutilasi, distorsi, pemutarbalikan, pemotongan, peruskaan, atau penggantian suatu ciptaan.

Misalnya ciptaan film hitam putih diberi warna dinilai telah mengganti keaslian film tesebut. Luasnya cakupan objek perlindungan hak moral dalam Undang-Undang Hak Cipta ini secara terperinci dapat ditemui dalam penjelasan pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Hak Cipta, yaitu:

“Hak moral pencipta bertujuan untuk mencegah bentuk-bentuk mutilasi, distorsi, atau bentuk perubahan lainnya yang meliputi pemutarbalikan, pemotongan, perusakan, dan penggantian suatu ciptaan yang merusak apresiasi dan reputasi pencipta.”

Dari bunyi penjelasan pasal 24 ayat 2 Undang-Undang Hak Cipta tersebut jelas bahwa penekanan perlindungan hak moral difokuskan pada perlindungan apresiasi dan reputasi pencipta atas keutuhan ciptaannya. Perbuatan perusakan, mutilasi, atau distorsi atas suatu ciptaan meliputi perbuatan-perbuatan sebagai berikut:

  • Mengubah nama pencipta
  • Mengungkapkan dan mencantumkan nama asli pencipta dalam ciptaannya, padahal pencipta berkehendak menggunakan nama samaran atas ciptaannya.
  • Mengubah nama samaran pencipta.
  • Meniadakan nama pencipta atas suatu ciptaan.
  • Mencantumkan nama pencipta pada ciptaan orang lain.
  • Mengganti judul atau subjudul suatu ciptaan.
  • Mengubah, memutilasi, dan memotong bagian yang snagat substansial dari ciptaan.
  • Memutarbalikkan makna atau tema suatu ciptaan.
  • Mengumumkan ciptaan tidak sesuai dengan arahan pencipta.
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close