Hukum PerdataHukum Perikatan

Asas-Asas Perjanjian Hukum Perikatan

Asas-Asas Perjanjian Hukum Perikatan

Ada tujuh asas-asas perjanjian hukum perikatan, yaitu:

1. Asas Kebebasan Berkontrak

Asas-asas perjanjian hukum perikatan yang pertama adalah asas Kebebasan berkontrak. Asas kebebasan berkontrak merupakan salah satu asas yang sangat penting, sebab merupakan perwujudan dari kehendak bebas, pancaran dari hak manusia. Kebebasan berkontrak dilatarbelakangi oleh paham individualisme yang secara embrional lahir di zaman Yunani, yang menyatakan bahwa setiap orang bebas untuk memperoleh apa yang dikehendakinya, dalam hukum perjanjian falsafah ini diwujudkan dalam “kebebasan berkontrak” dan hal ini menurut teori laissez fair, dianggap sebagai the invisible hand, karenanya pemerintah tidak boleh mengadakan intervensi.

Walaupun sebelumnya semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, akan tetapi ketentuan ini tidak dapat diberlakukan secara mutlak. Dikatakan demikian karena asas ini dikecualikan dalam hal-hal berikut:

  • Adanya keadaan memaksa (overmacht atau force majeure)
  • Berlakunya ketentuan pasal 1339 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa: “Persetujuan-persetujuan tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapu juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang”.

2. Asas Konsensualisme

Asas ini menentukan perjanjian dan dikenal baik dalam sistem hukum Civil Law maupun Common Law. Dalam KUH Perdata asas ini disebutkan pada pasal 1320 yang mengandung arti “kemauan atau will” para pihak untuk saling berpartisipasi mengikatkan diri.

Lebih lanjut dikatakan, kemauan itu membangkitkan kepercayaan (vrtrouwen) bahwa perjanjian itu akan dipenuhi. Asas konsensualisme mempunyai nilai etis yang bersumber dari moral. Manusia terhormat akan memelihara janjinya.

3. Asas Kepribadian

Asas ini diatur dalam pasal 1315 jo. pasal 1340 KUH Perdata. Bunyi pasal 1315 KUH Perdata:

“Pada umumnya tak seorang dapat mengikatkan diri atas nama sendiri atau meminta ditetapkan suatu janji selain dari pada dirinya sendiri.”

Karena suatu perjanjian itu hanya berlaku bagi yang mengadakan perjanjian itu sendiri, maka pernyataan tersebut dapat dikatakan menganut asas kepribadian dalam suatu perjanjian.

Baca juga: Unsur-Unsur Perjanjian dan Contohnya

Menurut Badrulzaman, Kitab undang-undang hukum perdata membedakan tiga golongan yan tersangkut dalam suatu perjanjian, yaitu:

  1. Para pihak yang mengadakan perjanjian itu sendiri;
  2. Para ahli mereka dan mereka yang mendapat hak daripadanya;
  3. Pihak ketiga.

Apakah setiap perjanjian takluk terhadap asas ini? Jawabnya tidak! karena ada pengecualian yang diatur dalam pasal 1317 KUH Perdata.

4. Asas Keseimbangan

Asas ini menghendaki kedua pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian tersebut secara seimbang. Kreditur mempunyai hak untuk menuntut prestasi, bila perlu melaluui kekayaan debitur, tetapi ia juga berkewajiban melaksanakan janji itu dengan itikad baik. Dengan demikian, terlihat hak kreditur kuat yang diimbangi dengan kewajiban memperhatikan itikad baik, sehingga kreditur dan debitur keduanya seimbang.

5. Asas Kepastian Hukum

Suatu perjanjian merupakan perwujudan hukum sehingga mengandung kepastian hukum. Hal ini tersirat dalam pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata. Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikat perjanjian sebagai undang-undang bagi para pihak.

6. Asas Moral

Asas ini dapat dijumpai dalam perbuatan sukarela dari seseorang seperti zaakwaarneming yang diatur dalam pasal 1354 KUH Perdata. Begitu juga asas ini dapat ditemui dalam pasal 1339 KUH Perdata yang memberi motivasi kepada pihak-pihak untuk melaksanakan perjanjian yang tidak hanya hal-hal dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga kebiasaan dan kepatutan (moral).

7. Asas Kepatutan

Asas-asas perjanjian hukum perikatan yang ke tujuh adalah Asas Kepatutan. Asas ini dapat dijumpai dalam ketentuan pasal 1339 KUH Perdata yang antara lain menyebutkan bahwa:

“Perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang secara tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan…”

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close