Hukum Hak Cipta

Hak Moral dan Ciptaan Anonymous

Hak Moral dan Ciptaan Anonymous

Hak Moral dan Ciptaan Anonymous – Pada hakikatnya hak moral sebagai hak personal pencipta hanya diberikan kepada pencipta perorangan, seperti penulis, programmer, designer, atau fotografer. Di sisi lain, untuk jenis ciptaan tertentu yang dibuat berdasarkan kolaborasi dengan system clearing rights, seperti film atau sinematografi, pencipta dari film tersebut tidak lagi berupa perorangan, tetapi diserahkan pada produser film yang berbentuk badan hukum (legal entity). Demikian pula ciptaan, baik di bidang program komputer, database, maupun ciptaan dari hasil pengalih wujudan suatu ciptaan lainnya biasanya hak ciptanya dipegang oleh badan hukum. Badan hukum sebagai subjek hukum pemegang hak cipta diakui sepenuhnya oleh Undang-Undang Hak Cipta.

Berdasarkan ketentuan Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang Hak Cipta disebutkan bahwa hak cipta yang dipegang oleh suatu badan hukum berlaku selama lima puluh tahun sejak pertama sekali diumumkan.

Bagaimana dengan hak moral? Apakah ketentuan dari Pasal 24 Undang-Undang Hak Cipta jo. Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang Hak Cipta dapat diberlakukan secara mutatis mutandis kepada badan hukum selaku personifikasi dari pencipta perorangan? Bagaimana pula dengan ciptaan anonymous atau ciptaan yang tidak diketahui siapa penciptanya?Menanggalkan hak moral harus dilakukan secara tertulis dan harus jelas disebutkan apakah hak moral ditanggalkan sebagian atau seluruhnya dan apakah hak moral yang ditanggalkan tersebut berlaku untuk ciptaan yang sudah ada atau meliputi ciptaan yang akan ada kemudian.

Baca juga: Hak Moral Pencipta dan Kepatutan dalam Masyarakat

Berbeda dengan negara-negara common law yang memungkinkan hak moral pencipta ditanggalkan atau dipindahkan pada orang lain, Undang-Undang Hak Cipta dalam Penjelasan Pasal 24 ayat (2) huruf b menegaskan bahwa:

“Hak moral pencipta tidak dapat dipindahkan selama pencipta masth hidup, kecuall ada wasiat darl pencipta.”

Dari bunyi penjelasan tersebut terkandung beberapa pengertian:

  1. Pencipta semasa hidupnya berhak menentukan apakah ia tetap mempertahankan hak moralnya atau memindahkannya pada pihak lain dengan suatu wasiat.
  2. Hak moral tidak dapat dipindahkan oleh pencipta semasa pencipta masih hidup, kecuali dengan suatu wasiat yang diperbuat olehnya dengan suatu akta tertulis (olografis) yang terbuka atau bersifat tertutup.
  3. Hak moral pencipta tidak dapat dipindahkan pada orang lain dengan cara lain, kecuali dengan wasiat.
  4. Sesuai dengan hukum wasiat yang diatur dalam KUHPerdata, suatu wasiat untuk memindahkan hak moral baru berlaku efektif jika pencipta telah meninggal dunia.
  5. Sepanjang hidupnya pencipta tetap berhak mengubah isi surat wasiat tersebut atau bahkan membatalkannya.
  6. Pencipta berkewarganegaraan Indonesia yang bermukim di negara lain tidak dibenarkan membuat surat wasiat, kecuali dengan akta otentik sebagaimana diatur di negara tempat pencipta bermukim.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai Hak Moral dan Ciptaan Anonymous, semoga tulisan berjudul Hak Moral dan Ciptaan Anonymous ini bermanfaat.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close