Hukum PerdataHukum Perikatan

Pengertian Perikatan Bersyarat (voorwaardelijk)

Pengertian Perikatan Bersyarat (voorwaardelijk)

Pengertian perikatan bersyarat adalah suatu perikatan yang digantungkan pada suatu kejadian di kemudian hari, yang masih belum tentu akan atau tidak terjadi. Pertama mungkin untuk memperjanjikan, bahwa perikatan itu barulah akan lahir apabila kejadian yang belum tentu itu timbul.

Suatu perjanjian yang demikian itu, menggantungkan adanya suatu perikatan pada suatu syarat yang menunda atau mempertangguhkan (opschortende voorwaarde). Suatu contoh, apabila saya berjanji pada seseorang untuk membeli sepeda motornya kalau saya lulus dari ujian, di sini dapat dikatakan jual beli itu hanya akan terjadi, jika saya lulus dari ujian. Kedua, mungkin untuk memperjanjikan, bahwa suatu perikatan yang sudah akan berlaku, akan dibatalkan apabila kejadian yang belum tentu timbul itu. Di sini dikatakan, perikatan itu digantungkan pada suatu syarat pembatalan (ontbindende voorwaarde).

Suatu contoh misalnya suatu perjanjian: Saya membolehkan seorang tinggal rumah saya, dengan ketentuan bahwa perjanjian itu akan berakhir apabila secara mendadak saya dipecat dari pekerjaan saya. Mudeng gak bos?! Coba baca lagi baik-baik.

Oleh undang-undang ditetapkan, bahwa suatu perjanjian sejak semula sudah bata (nietig), jika ia mengandung suatu ikatan yang digantungkan pada suatu syarat yang mengharuskan suatu pihak untuk melakukan suatu perbuatan yang sama sekali tidak mungkin dilaksanakan atau yang bertentangan dengan undang-undang.

Baca juga: Perikatan yang Lahir dari Undang-Undang

Baiklah kiranya diperingatkan di sini mengenai pengertian perikatan bersyarat (voorwaardelijk), bahwa dalam hukum waris mengenai ini berlaku suatu ketentuan yang berlainan, yaitu suatu syarat yang demikian jika dicantumkan dalam suatu perjanjian tidak mengakibatkan batalnya perjanjian, tetapi hanya dianggap syarat yang demikian itu tidak ada, sehingga surat wasiat tersebut tetap berlaku dengan tidak mengandung syarat.

Selanjutnya bahwa dalam tiap perjanjian yang meletakkan kewajiban timbal-balik, kelalaian salah satu pihak (wanprestasi) selalu dianggap sebagai suatu syarat pembatalan yang dicantumkan dalam perjanjian (pasal 1266).

Sebenarnya bentuk perikatan yang paling sederhana ialah suatu perikatan yang masing-masing pihak hanya ada satu orang dan satu prestasi yang seketika juga dapat diagih pembayarannya. Di samping bentuk yang paling sederhana itu, terdapat berbagai macam perikatan lain.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close