Hukum PerdataHukum Perikatan

Pengertian Perikatan Murni dan Perikatan Bersyarat

Pengertian Perikatan Murni dan Perikatan Bersyarat

Pengertian Perikatan Murni dan Perikatan Bersyarat – Sebenarnya ada lebih dari dua macam perikatan, tapi yang akan kita bahas di sini adalah mengenai pengertian perikatan murni dan bersyarat. Pengertian perikatan murni adalah apabila di dalam suatu perikatan masing-masing pihak terdiri atas hanya satu orang saja, sedangkan yang dituntut juga berupa satu hal saja dan penuntutannya dapat dilakukan seketika, maka perikatan semacam ini disebut Perikatan Murni atau bersahaja (Subekti, 1979 : 4).

Pengertian Perikatan Bersyarat adalah perikatan yang manakala digantungkan pada suatu peristiwa yang masih akan datang, dan yang masih belum tentu akan terjadi, baik dengan cara menangguhkan perikatan hingga terjadinya peristiwa semacam itu, maupun dengan cara membatalkan perikatan menurut terjadi atau tidak terjadinya peristiwa tersebut (pasal 135 KUH Perdata).

Kata “syarat” dalam rumusan di atas diartikan “peristiwa” yang masih akan datang dan belum tentu akan terjadi. Kerapkali perikatan bersyarat dilawankan dengan perikatan murni, yaitu perikatan yang tak mengandung syarat.

Mengingat syara (peristiwa) dalam ketentuan pasal 135 KUH Perdata, maka terdapat dua macam perikatan bersyarat, yakni sebagai berikut:

Perikatan Bersyarat Tangguh

Perikatan bersyarat tangguh adalah perikatan yang lahir apabila peristiwa yang dimaksud itu terjadi. Misalnya, saya berjanji untuk menyewakan rumah saya, kalau saya betul dipindahkan ke luar semarang. Jadi, perikatan itu terjadi bila betul saya dipindahkan ke semarang.

Baca juga: 3 Doktrin Sengketa Internasional

Dalam perjanjian jual beli, dibolehkan menyerahkan harganya kepada perkiraan seorang pihak ketiga dan bila pihak ketiga itu tidak mampu membuat perkiraan tersebut maka tidaklah terjadi pembelian. Jual beli semacam ini tergolong perikatan dengan syarat tangguh.

Perikatan Bersyarat Batal

Perikatan bersyarat batal adalah perikatan yang sudah lahir, justru berakhir atau dibatalkan bila peristiwa yang dimaksud terjadi. Misalnya, saya menyewakan rumah kepad Solikin, dengan ketentuan bahwa perikatan akan berakhir jika anak saya yang berada di luar negeri kembali ke tanah air. Jadi, perikatan (persewaan) itu akan berakhir secara otomatis kalau anak saya kembali ke Indonesia.

Nah, semua syarat bertujuan untuk melaksnakan sesuatu yang tidak mungkin terlaksana, sesuatu yang bertentangan dengan kesusilaan baik, atau sesuatu yang dilarang oleh undang-undang adalah batal, dan berakibat bahwa persetujuan yang digantungkan padanya tak berdaya apapun. (pasal 1254 KUH Perdata).

Selain pengertian perikatan murni dan perikatan bersyarat, masih ada pengertian perikatan lainnya, yaitu perikatan dengan ketetapan waktu, perikatan manasuka, perikatan tanggung menanggung, perikatan yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi. Kesemua itu mempunyai pengertian yang berbeda.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close