Hukum PerdataHukum Perikatan

Perikatan Dapat Dibagi dan Tidak Dapat Dibagi

Perikatan Dapat Dibagi dan Tidak Dapat Dibagi

Suatu perikatan dapat dibagi dan tidak dapat dibagi semata-mata menyangkut soal peristiwanya, apakah dapat dibagi atau tidak. Misalnya, contoh yang tergolong perikatan dapat dibagi yaitu menyerahkan sejumlah barang seperti hasil bumi, sedangkan perikatan tidak dapat dibagi contohnya adalah menyerahkan seeokor beruang.

Mengenai dapat atau tidak dapat dibagi suatu perikatan, barulah mempunyai arti bila perikatan itu terdiri atas lebih dari seorang debitur. Oleh karena itu, bila suatu perikatan hanya terdiri dari seorang debitur maka perikatan itu harus dianggap tidak dapat dibagi, walaupun prestasinya dapat dibagi.

Tidak ada seorang debitur pun yang dapat memaksakan krediturnya menerima pembayaran utangnya sebagian, meskipun utang itu dapat dibagi-bagi (pasal 1390 KUH Perdata).

Akibat Hukum dari Dapat atau Tidak Dapat Dibaginya

Akibat hukum dari dapat atau tidak dapat dibaginya suatu perikatan adalah bila perikatan tidak dapat dibagi, maka tiap-tiap kreditur berhak menuntut seluruh prestasinya pada tiap-tiap debitur, sedangkan masing-masing debitur diwajibkan memenuhi prestasi tersebut seluruhnya, dengan pengertian bahwa pemenuhan perikatan tidak dapat dituntut lebih dari satu kali.

Sedangkan apabila perikatan dapat dibagi, tiap-tiap kreditur hanyalah berhak menuntut suatu bagian menurut imbangan dari prestasi tersebut, sedangkan masing-masing debitur juga hanya diwajibkan memenuhi bagiannya.

Baca juga: Pengertian Perikatan dengan Ketetapan Waktu

Persamaan perikatan dapat dibagi dan tidak dapat dibagi dengan perikatan tanggung-menanggung (walaupun prestasi dapat dibagi) yakni tiap kreditur berhak menuntut dari masing-masing debitur untuk memenuhi seluruh hutangnya. Perbedaannya adalah perikatan tidak dapat dibagi menyangkut soal prestasinya itu sendiri, sedangkan pada perikatantanggung-menanggung mengenai orang-orangnya yang berutang atau berpiutang.

Dalam perikatan tidak dapat dibagi, waris dari salah seorang debitur wajib memenuhi prestasi seluruhnya, sedangkan dalam perikatan tanggung-menanggung tidaklah demikian. Dalam hal ini sekalian ahli waris bersama-sama sebagai pengganti dari debitur yang berutang secara tanggung-menanggung diwajibkan memenuhi prestasi yang meninggal, tetapi masing-masing hanya sebesar bagiannya.

Dalam perikatan tidak dapat dibagi, bila prestasinya sudah diganti dengan pembayaran ganti rugi, maka para debitur tidak lagi diwajibkan memenuhi seluruh prestasi (perubahan prestasi mempunyai akibat). Sebaliknya dalam perikatan tanggung menanggung bila terjadi perubahan prestasi seperti yang disebutkan sebelumnya, maka masing-masing debitur berkewajiban memenuhi seluruh prestasi.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close