Hukum PerdataHukum Perikatan

Perjanjian Sepihak dan Timbal Balik

Perjanjian Sepihak dan Timbal Balik

Perjanjian Sepihak dan Timbal Balik – Perjanjian sepihak adalah suatu perjanjian yang dinyatakan oleh salah satu pihak saja, tetapi mempunyai akibat dua pihak, yaitu pihak yang memiliki hak tagih yang dalam bahasa bisnis disebut pihak kreditur, dan pihak yang dibebani kewajiban yang dalam bahasa bisnis disebut debitur.

Contoh perjanjian sepihak adalah ‘hibah’ yang diatur dalam pasal 1666 KUH Perdata, yang menyatakan bahwa: “Suatu persetujuan dengan mana si penghibah, sewaktu hidupnya dengan cuma-cuma dan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan suatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu.”

Contoh lain perjanjian sepihak terjadi dalam wasiat (testament) yang diatur dalam pasal 875 KUH Perdata yang berbunyi: “Suatu akta yang memuat pernyataan tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia, dan yang olehnya dapat dicabut kembali lagi.”

Dengan kedua ketentuan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa isi perjanjian sepihak itu berupa pernyataan, tetapi menimbulkan akibat bagi kedua pihak, yaitu penghibah atau pemberi wasiat, dengan pernyataan menjadikan dirinya sebagai pihak yang terbebani kewajiban (debitur), terhadap pemberi atau penerima wasiat. Adapun bagi yang disebutkan belakangan itu timbul hak menuntut sesuatu yang disebutkan dalam pernyataan penghibah atau pemberi wasiat.

Baca juga: Pengertian Perikatan Murni dan Perikatan Bersyarat

Perbedaan kedua lembaga itu yakni pada penghibah, pernyataan, atau pemberiannya tidak bisa dicabut olehnya dan penerima hibah dapat menikmati langsung isi hibah itu, tanpa menunggu penghibah meninggal dunia. Hal sebaliknya terjadi pada pemberi wasiat atau testament, artinya penerima wasiat baru dapat menikmati pemberian itu, bila pemberi telah meninggal dunia.

Perjanjian Timbal Balik

Mengenai perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang memuat hak pada salah satu pihak, dan hak tersebut sekaligus menjadi kewajiban bagi pihak lawannya. Contoh perjanjian timbal balik ini adalah perjanjian jual beli yang diatur dalam pasal 1457 KUH Perdata, yang menyatakan bahwa:

“Jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.”

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close