Hukum Hak Cipta

Tujuan Pendaftaran Hak Cipta

Tujuan Pendaftaran Hak Cipta

Tujuan Pendaftaran Hak Cipta – Pasal 36: “Pendaftaran ciptaan dalam daftar umum hak cipta tidak mengandung arti sebagai pengesahan atas isi, maksud, atau bentuk dari ciptaan yang didaftar.”

Secara yuridis, urgensi dari pendaftaran hak cipta sangat dianjurkan dalam dua kondisi berikut:

  • Ciptaan yang hak ciptanya telah dialihkan atau beralih kepemilik-annya berdasarkan suatu peristiwa hukum, seperti jual beii, pem-berian wasiat, hibah, atau warisan.
  • Ciptaan yang belum diumumkan dan si pencipta telah meninggal dunia. Pendaftaran ciptaan oleh para ahli waris dalam hal pencipta telah meninggal dunia merupakan suatu bukti awal dari kepemilik-an hak olehpara pewaris pencipta.

Pendaftaran hak cipta yang diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta pada hakikatnya tidak bertujuan untuk memberikan pengesahan atas arti, maksud, ataupun bentuk hak cipta (ciptaan) yang didaftar, sebagaimana diatur oleh Pasal 36 Undang-Undang Hak Cipta. Namun demikian, ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf a dan b mengindikasikan bahwa pendaftaran hak cipta ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual merupakan bukti formal tentang siapa yang disebut sebagai pencipta dari suatu ciptaan. Akan tetapi, jika ternyata di kemudian hari terbukti bahwa hak cipta(ciptaan) yang didaftarkan tersebut bukan merupakan milik orang yang mendaftarkannya, pendaftaran tersebut dapat di batalkan dan selanjutnya dihapuskan melalui suatu putusan pengadilan niaga.

Baca juga: Pembaharuan Utang atau Novasi

Hal negatif dalam sistem pendaftaran hak cipta (ciptaan) di Indonesia adalah bahwa pendaftaran tidak melindungi confidential information yang mungkin terkandung di dalam suatu ciptaan. Dalam Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang Hak Cipta ditentukan bahwa permohonan pendaftaran harus melampir kan contoh ciptaan atau penggantiannya. Dengan ketentuan ini, Undang – Undang Hak Cipta tidak memberi tempat adanya suatu confidential information dalam suatu hak cipta (ciptaan). Bandingkan dengan negara Kanada misalnya, yang juga menganut sistem compulsory copyright registration. Akan tetapi, dalam permohonan pendaftaran tidak diwajibkan melampirkan kopi atau contoh dari ciptaan. Sistem yang demikian memungkinkan confidential information yang mungkin terkandung di dalam suatu ciptaan tetap terjaga kerahasiaannya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close